Kategori : Artikel - dibaca 109 kali

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar…” (QS. Ali Imran: 110)
Al-quran telah mengabarkan bahwa kita adalah umat terbaik. Tapi bila kita berkaca pada cermin umat Islam hari ini, maka yang nampak sepertinya berbeda dengan apa yg dikabarkan Al-quran. Apakah kabar Al-quran keliru? Tentu bukan, karena Al-quran terjaga dari kekeliruan. Jadi yang paling mungkin adalah kita yang keliru hari ini.
Apa yang keliru dari kita sekarang? Ahli fiqih berpendapat bahwa sekarang banyak orang Islam yang mengabaikan fiqih dalam berkehidupan (walaupun disisi lain banyak juga yang berdebat tentang perbedaan fiqih, meskipun tanpa ilmu). Ahli hadist, ahli ekonomi Islam, ahli teknologi, ahli pergerakan islam atau ahli-ahli yang lain juga bependapat senada yang intinya menyatakan bahwa kita masih banyak yang kurang atau bahkan keliru. Lantas apa yang perlu kita lakukan?
Tulisan ini tidak hendak membahas semua persoalan kekeliruan kita itu karena terbatasnya ilmu untuk membahas banyaknya kekeliruan kita. Dalam hal ini, tulisan ini bermaksud mengajak kita untuk melihat kekeliruan kita dari satu sisi, yaitu sisi sosial masyarakat yang lebih khusus pada sisi kepedulian sosial (social care).
Sejarah menuliskan bahwa apa yang dikabarkan Al-quran pernah terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW dan masa beberapa khalifah setelahnya. Pada waktu itu Islam menjadi sebuah kekuatan besar di dunia, bahkan pernah “menguasai” sepertiga dunia. Islam menjadi sumber kesejahteraan masyarakat. Catatan masyhur tentang Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengisahkan bahwa Yahya bin Sa’ad, salah seorang pegawai kekhilafahan di masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Azis, pernah diminta untuk membagikan zakat. Ia pergi ke wilayah Syam, namun tidak satupun orang yang mau menerima zakat. Lalu dia pergi ke Afrika, juga tidak satupun orang yang mau menerima zakat. Pada akhirnya Khalifah Umar bin Abdul Azis mengambil keputusan untuk diberikan kepada para pemuda yang belum berani menikah agar segera menikah dan seluruh biaya pernikahan serta biaya hidup pada awal-awal rumah tangganya akan ditanggung oleh Negara.
Dari kacamata sosial, apa yang terjadi pada masa kejayaan Islam itu tidak lepas dari adanya kepedulian sosial (social care) yang telah diajarkan Islam melalui adanya syariat untuk mengeluarkan sebagian harta (ZISWA) yang telah dipahami secara mendalam pada masa itu. Bagaimana dengan umat Islam sekarang? Kita sungguh berbangga dengan munculnya berbagai lembaga amil zakat (DD Republika, DPU-DT, Rumah Zakat, PKPU, dll) yang turut membangkitkan semangat kepedulian sosial umat ini. Tapi itu belum cukup, karena menurut Prof. Didin Hafidhuddin, ZISWA yang berhasil dihimpun sekarang ini masih sangat jauh dari potensi masyarakat. Menurutnya potensi zakat Indonesia mencapai angka 100 triliun rupiah per tahun, sementara penghimpunan BAZNAS di tahun 2010 baru mencapai 1,5 triliun rupiah. Disisi lain ketimpangan sosial umat Islam hari ini masih amat mencolok mata batin kita.
Betapa tidak mencolok? Bukankah sekarang masih banyak diantara saudara kita yang tidur di pinggir jalan, tinggal di bawah jembatan, putus sekolah, dll. Seorang ibu yang ditinggal suaminya misalnya, harus menghidupi anak-anaknya dengan menjadi buruh cuci dan jualan makanan kecil keliling yang penghasilannya maksimal 500 ribu sebulan. Padahal ia butuh kontrak kamar (sebagai rumahnya), sekolah anak-anaknya, belum lagi kalau anak ada yang sakit. Atau kisah-kisah yang lebih parah dari itu masih sangat banyak. Kalau tidak percaya, sesekali cobalah main ke Lembaga Sosial/ LAZ/ ke daerah kantung kemiskinan untuk melihat secara langsung kisah orang-orang itu. Sementara disisi lain, sebagian kita sudah cukup nyaman hanya dengan mengeluarkan infaq sebesar Rp 1.000 atau Rp. 10.000 seminggu sekali saat jum’atan, sementara untuk kehidupan sehari hari kita menghabiskan jutaan rupiah setiap bulannya. Belum lagi ada juga sebagian kita yang hidup dalam kemewahan. Apakah ini tidak timpang?
Rasulullah SAW dan para sahabat mencontohkan yang berbeda dari kebanyakan kita sekarang ini. Mereka maksimal dalam mencari harta, sekaligus maksimal dalam mengamalkan hartanya di jalan Alloh SWT atau dengan kata lain minimal dalam menikmati hartanya, sebagaimana disampaiakn seorang ustadz di sebuah kajian di Kantor DPU DT Semarang. Mereka kaya sekaligus sederhana, bahkan sebagian sampai miskin. Maksudnya, bergaya hidup sederhana atau bergaya hidup miskin, tapi berpenghasilan melimpah. Itulah mereka. Emas satu nampan milik Rosululloh SAW habis dalam satu hari untuk dibagikan, Usman bin Affan seorang sahabat menginfakkan 1000 ekor unta, 70 kuda dan 1000 dinar dalam sekali waktu untuk Islam. Sistem kepemimpinan sangat mendukung kepedulian sosial hingga zakat menjadi kesadaran mayoritas umat di jaman itu. Maka tidak heran bila Islam masa itu menjadi umat terbaik.
Untuk memperbaiki umat ini memang tidak mudah dan perlu usaha yang komprehensif. Tapi bukan berarti itu menghalangi kita untuk melakukan apa yang kita bisa. Bila sistem kepemimpinan kita sekarang belum terlalu mendukung, sesungguhnya kita secara pribadi sangat mampu untuk menjadi orang yang dermawan meskipun nafsu diri menghendaki lain. Cobalah kita kembali baca dan renungi shirah nabawi, sejarah para sahabat dan ulama kita. Sungguh kepedulian sosial harus selalu dan selalu dinasihatkan kepada kita. Agar kita tidak lupa, bahwa masih banyak yang membutuhkan bantuan kita. Bahwa kita sering terlena dengan kenikmatan pribadi kita dan cukup puas dengan infaq sekedarnya. Semoga Alloh SWT menjadikan kita hamba yang bermanfaat bagi sesamanya. Semoga Alloh SWT melimpahkan kasih sayang diantara kita. Aamiin.
“Diriwayatkan dari Jabir berkata, Rasulullah saw bersabda, Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni). Hadits ini dishahihkan oleh al Albani didalam “ash Shahihah” nya.
Oleh: Wahyu Setiawan ( Santri Karya DPU DT Semarang )
Top Download
Agenda
- 26 Februari 2012
Aksi Layanan Kesehatan & Pengobatan Gratis Keliling - 25 Februari 2012
Kajian MMQ DPU Daarut Tauhiid di Radio Dais - 23 Februari 2012
Kajian Majelis Manajemen Qolbu di Kantor DPU Daarut Tauhiid Semarang - 18 Februari 2012
Kajian Radio MMQ DPU Daarut Tauhiid di Radio Dais
Polling
Berita Terpopuler
Komentar
- yayan Unnes pada Open Rekruitmen Program Beasiswa Mandiri Thn 2012 /2013
- mu'awanah pada Open Rekruitmen Program Beasiswa Mandiri Thn 2012 /2013
- aris pada Open Rekruitmen Program Beasiswa Mandiri Thn 2012 /2013
- RAMADHEN DEWI RESPANINGRUM pada Akibat Kufur Nikmat
- sakidi pada Wakaf Al Qur'an Braille untuk Sahabat Mata
- Andi pada
User Statistik






Pengunjung hari ini 22
Total Pengunjung 4323
Hit hari ini 101
Total Hit 45140
Pengunjung Online 5
Pencarian
Kategori Berita
- Artikel (9)
- Berita DPUDT (1)
- Kegiatan DPUDT (11)
- Pengumuman DPUDT (1)
Kalender
| Kamis, 23 Februari 2012 | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| S | M | T | W | T | F | S |
| 1 | 2 | 3 | 4 | |||
| 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 |
| 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 |
| 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 |
| 26 | 27 | 28 | 29 | |||






















